Sekolah Backpacker IDN Sukses Keliling 20 Negara dalam 10 Bulan
IDN Backpacker School Bogor Tuntaskan Misi Sekolah sambil Perjalanan 3 Benua
30 Siswa, 20 Negara, 10 Bulan, Ribuan Langkah, Jutaan Transformasi Hidup lewat kurikulum epik Sekolah Backpacker asal Bogor, Jawa Barat.
Bogor – IDN Backpacker School, sekolah pengusung program backpacker di Bogor telah menyelesaikan perjalanan keliling dunianya dengan sukses. Tepat pada tanggal 28 April 2026, suasana haru dan bangga menyelimuti area kedatangan internasional Bandara Soekarno Hatta. Setelah menempuh perjalanan epik sejak Juli 2025, 30 siswa dan 6 guru IDN Backpacker School mendaratkan kaki di tanah air.
Para Siswa Backpacker ini baru saja menyelesaikan perjalanan tak biasa. 20 cap negara di paspor di usia belasan. Kepulangan mereka menandai keberhasilan sebuah konsep pendidikan kehidupan sesungguhnya lewat petualangan mengelilingi 20 negara di tiga benua. Mereka telah dinantikan ayah ibu dan keluarga, setelah dilepaskan dengan doa untuk menuntut ilmu dan membangun jiwa di tanah orang.
IDN Backpacker School merancang program ini agar siswa tidak hanya melihat dunia lewat layar gawai. Walau merupakan sekolah yang berfokus di bidang teknologi, belajar tak selalu lewat layar dan internet. Maka dari itu, dibentuklah pembelajaran khusus kelas 11 IDN Boarding School Bogor ini.
Rute panjang yang mereka tempuh meliputi Malaysia, Mesir, Maroko. Selanjutnya ke Eropa Belanda, Jerman, Belgia, Republik Ceko, Austria, Slovakia, Hungaria, Serbia, Bulgaria lewat perjalanan darat. Berpindah ke Asia kembali, mereka menyusuri Turki, Arab Saudi, Nepal, Thailand, Laos, Vietnam, Hongkong, dan Macau.
Di setiap negara, tantangan baru selalu menanti. Di Eropa misalnya, mereka mencatatkan perjalanan maraton melintasi 9 negara dalam 9 hari menggunakan bus, bahkan sempat mengeksplorasi 3 negara sekaligus dalam satu hari karena jaraknya yang berdekatan. Di Turki dan Mesir, mereka menetap masing-masing selama satu bulan untuk mendalami budaya lokal, sementara di Arab Saudi, perjalanan diselingi dengan ibadah umrah dan menetap di Madinah.
Namun, di balik angka-angka negara tersebut, ada sistem tanggung jawab ketat yang bergulir di antara para siswa. Ketua Pembina IDN Backpacker, Rinaldy Abdillah, menjelaskan bahwa tugas harian dibagi secara bergilir demi melatih kedewasaan siswa.
“Setiap hari pasti ada dinamika baru. Tugas siswa dibagi secara bergilir supaya semua merasakan tanggung jawab yang berbeda. Mulai dari dokumentasi, mengurus kebersihan, belanja logistik bahan makanan di pasar lokal, memasak untuk tim, hingga menjadi ketua kelompok dalam perjalanan. Di samping itu, pembelajaran sekolah tetap berlangsung. Mereka wajib memenuhi Standar Kelulusan (SKL) sekolah dan mengikuti kegiatan belajar mengajar dan tahfidz secara rutin. Jadi, meski berpindah negara, tanggung jawab akademik tetap berjalan,” jelasnya.
Backpacker di Balik Layar: Perjalanan Studi & Wisata Luar Negeri yang Tak Seperti di Media Sosial
Bagi keenam guru pembina, mengawal 30 remaja dengan karakter berbeda di negeri asing adalah ujian kepemimpinan yang sesungguhnya. Derry, salah satu pembina yang ikut dalam perjalanan, menceritakan bahwa proses pendewasaan diri justru paling kuat dirasakan oleh para guru.
“Hampir satu tahun backpacking lintas negara melatih mental, emosi, tanggung jawab, dan cara menghadapi situasi yang tidak bisa diprediksi. Kami belajar banyak tentang leadership, problem solving, dan mengambil keputusan dengan cepat,” ungkap Derry.
Ia tidak menampik adanya fase-fase berat selama perjalanan. “Ada fase kurang tidur, perbedaan waktu, mengurus imigrasi dan visa yang kaku seperti di Maroko, menjaga siswa yang sakit, hingga drama kehilangan barang atau paspor. Namun, kepuasan terbesar adalah melihat para siswa yang awalnya pemalu, manja, dan sulit beradaptasi, perlahan berubah menjadi pribadi yang mandiri dan berani.”
Karena perjalanan backpacker sangat jauh dari kesan liburan mewah yang serba jadi, semua dijalankan mandiri namun terencana. Transformasi pengetahuan, mental, dan pendewasaan itu terasa dan terlihat jelas pada ke-36 keluarga besar IDN yang penuh solidaritas itu.
Baca Juga: Belajar IT dan Tahfidz Sambil Keliling Dunia, Ke Mana Aja?
Momen Lucu, Rasisme, hingga Kebaikan Warga Lokal yang Tak Terduga
Bagi para siswa, perjalanan 10 bulan ini menyisakan lanskap emosi yang kaya. Saat ditanya mengenai pengalaman mereka, jawaban yang muncul sangat jujur dan reflektif. Berada di negara yang berbeda dari Indonesia, ada banyak momen luar biasa, dari yang menyenangkan, tidak mengenakkan, hingga yang mengharukan. Emosi campur aduk inilah yang sebenarnya jauh lebih berkesan dan penuh pembelajaran daripada sekadar foto di tempat-tempat wisata populer yang turis sering kunjungi.
Banu Farraz Athallah, Oh Hyunbin, Raihaan Fadhillah Putra Ali, dan Rayyan Zulfadli membagikan potongan-potongan ingatan mereka.
Negara mana yang paling berkesan?
Mengenai negara paling berkesan, Arab Saudi dan Belanda kerap disebut. Belanda dikagumi karena infrastruktur, keteraturan tata kota, dan kefasihan bahasa Inggris warganya, sementara Arab Saudi membekas karena spiritualitas tanah suci. Siapa yang tidak ingin kembali untuk menunaikan ibadah di sana. Terlebih IDN merupakan sekolah tahfidz, sehingga para siswa bisa merasakan khidmatnya halaqah bersama masyaikh di masjid Nabawi langsung.
Negara yang cukup didatangi 1 kali saja?
Backpacking ini mengajarkan mereka tentang realitas sosial. Ketika ditanya negara yang cukup dikunjungi sekali saja, beberapa siswa menyebut Maroko karena birokrasi imigrasinya yang rumit dan pengalaman tidak menyenangkan terkait rasisme.
Apa saja momen yang berkesan?
Namun di negara yang sama pula, Maroko, mereka menemukan momen paling mengharukan.
“Saat kami sempat tersesat dan kesulitan logistik di Maroko, ada warga lokal yang dengan tulus meluangkan waktu untuk menolong tanpa pamrih. Kami juga sempat mengobrol hangat dengan pemilik kedai lokal. Keramahan tulus mereka menyadarkan saya bahwa kebaikan itu universal, jauh lebih membekas dibanding objek wisatanya,” kenang salah satu siswa.
Selain itu, mereka juga mengobrol dengan warga lokal dan semua makanan mereka dibayarkan oleh orang random.
Di Belanda, mereka merasakan jajan makanan dengan harga selangit, yaitu fish fry seharga 15 euro atau lebih dari 300 ribu rupiah.
Ada juga cerita komedi saat mereka salah memesan makanan di sana akibat kendala bahasa.
Secara akademis, perjalanan ini melecut motivasi mereka. Di Vietnam, mereka bertemu dengan pengurus PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) yang memberikan nasihat berharga: di dunia ini sudah banyak ilmuwan, tapi belum banyak ilmuwan yang bisa membawa ilmunya ke dunia digital, seperti menggunakan Python untuk fisika nuklir. Bagi siswa jurusan Network Engineering, melihat langsung efisiensi jaringan teknologi di negara maju menjadi bahan bakar untuk belajar lebih giat agar kelak bisa membangun infrastruktur digital yang bermanfaat di Indonesia.









Teruntuk yang Menemani Perjuangan Sekolah dan Backpacker
Kembalinya mereka ke Indonesia membawa pulang cara pandang baru terhadap dunia. Rasa terima kasih yang mendalam mengalir dari para siswa untuk orang tua yang telah memberikan restu, biaya, dan doa yang menjangkahi langkah mereka melintasi 20 negara.
Rasa hormat juga mereka sematkan kepada para pembina yang mereka sebut sebagai “jangkar” yang menjaga kekompakan tim, serta kepada teman seangkatan yang telah menurunkan ego demi bertahan bersama, serta menaati peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati bersama.
“Suatu hari nanti, kita semua pasti akan sibuk dengan dunia dan jalan hidup masing-masing. Mungkin tidak akan ada lagi hari di mana kita berjalan bersama membawa backpack, mengejar kereta, tidur berdesakan, atau tertawa karena hal-hal kecil di negeri orang. Pengalaman ini bukan sekadar cap di paspor, tetapi bagian dari hidup yang akan selalu kami ingat,” tulis salah satu siswa dalam pesan penutupnya.
Ketua Pembina IDN Backpacker juga menitipkan pesan terakhir bagi para lulusan jalanan ini: “Yang paling mahal dari backpacker ini sebenarnya bukan tiket atau negaranya, tapi pengalaman hidup, cara berpikir, dan mental. Semoga setelah pulang, anak-anak bisa jadi pribadi yang lebih mandiri, dewasa, mudah beradaptasi, dan punya cara pandang yang lebih luas terhadap dunia. Jangan cepat puas, karena perjalanan ini adalah awal untuk langkah-langkah besar berikutnya.”
Ikuti keseruannya langsung di Laman Instagram IDN Backpacker School.
Transformasi Kehidupan Setelah Perjalanan 20 Negara
Ada haru yang tidak bisa disembunyikan di area kedatangan bandara hari itu. Sepuluh bulan lalu, mereka dilepas dengan pelukan penuh kekhawatiran dari orang tua. Tiga puluh anak laki-laki yang mungkin saat itu masih manja, masih sering menunda waktu, dan belum pernah membayangkan bagaimana rasanya mengurus paspor atau tersesat di negeri asing.
Namun, jalanan dunia, tembok rumah singgah setiap negara, jejak-jejak sejarah hingga dunia modern, adalah guru yang hebat.
Melalui ribuan langkah yang mereka tapaki mulai dari menyusuri padang pasir di Kairo, menahan dingin di bus lintas Eropa, hingga bersujud di depan Ka`bah, anak-anak ini tidak hanya sedang berpindah dari satu koordinat ke koordinat lain. Mereka sedang transformasi, memetakan masa depan yang lebih baik, mulai dari pikiran hingga pengalaman.
Mereka pulang bukan lagi sebagai anak-anak yang sama. Di balik ransel berat yang mereka panggul, ada jutaan transformasi hidup yang kini melekat di pundak mereka. Mereka pulang sebagai pribadi yang mandiri, yang tahu cara menurunkan ego demi kebersamaan tim, yang paham mahalnya menghargai waktu, dan yang tersadar bahwa kebaikan manusia itu ada di sepanjang bumi Allah dipijak. Maka tidak perlu takut melangkah ke mana, selama ada tujuan dan jiwa selalu mengingat Allah.
Layar digital dan paspor penuh cap itu mungkin akan tersimpan di lemari. Namun yang akan dibawa ke mana pun adalah hasil tempaan mentalitas baja, cara pandang yang luas tentang dunia, dan ikatan persaudaraan selama hampir 1 tahun tergopoh-gopoh di luar negeri.
Selamat datang kembali di tanah air, para penjelajah muda. Perjalanan keliling dunia ini telah usai, namun langkah besar kalian untuk mengubah dunia baru saja dimulai.
