Brain Rot dan Berbagai Dampak Negatif Media Sosial, Baca Buku Obatnya?
Brain Rot di Kalangan Genz dan Milenial
Brain rot, chronically online, dan short attention span menjadi efek negatif dari penggunaan media sosial. Pengguna media sosial aktif saat ini digandrungi oleh berbagai kalangan, yang umumnya dari kalangan genz dan milenial. Tingginya penggunaan ponsel dan media sosial setiap hari menunjukkan keprihatinan terhadap minat baca masih rendah. Di era digital seperti sekarang, rendahnya minat baca sering kali dikaitkan dengan satu hal yang sangat dekat dengan keseharian kita: media sosial. Hampir setiap jeda waktu seperti menunggu, istirahat, bahkan sebelum tidur, tangan kita refleks membuka layar. Scroll demi scroll terasa singkat, padahal tanpa sadar waktu berlalu begitu lama.
Media sosial memang menawarkan hiburan instan. Namun, di balik itu, ada konsekuensi yang perlahan terasa. Banyak waktu habis tanpa hasil nyata, produktivitas menurun, dan fokus semakin pendek. Informasi datang bertubi-tubi, tetapi tidak semuanya bernilai. Hoaks mudah tersebar dan perdebatan online sering kali tidak berujung. Muncul juga istilah brain rot yang secara singkat berarti pembusukan otak. Menurut psikolog pada salah satu artikel, brain rot menggambarkan kondisi otak yang lelah karena konsumsi konten dangkal secara terus-menerus dan berefek pada kesulitan fokus. Hal yang umum terjadi saat ini, anak muda memiliki kemampuan memberikan perhatian yang rendah pada sesuatu yang membutuhkan waktu yang lama. Sebut saja genz saat ini kebanyakan tidak betah menonton video atau podcast panjang (kadang dipercepat), menyimak seminar/kelas daring maupun luring, dan membaca buku.
Tanpa disadari, terlalu lama di media sosial dan memegang ponsel membuat kita mengharuskan informasi diterima dengan cepat dan instan. Akibatnya, membaca teks panjang terasa melelahkan. Mudah bosan menyimak video panjang secara keseluruhan dan memilih potongan-potongan video yang bisa mengurangi isi pesan secara utuh. Konsentrasi mudah terpecah dan kemampuan berpikir mendalam perlahan menurun. Padahal, kemampuan inilah yang sangat dibutuhkan untuk belajar, bekerja, dan mengambil keputusan dengan bijak.
Bukan berarti media sosial harus ditinggalkan sepenuhnya. Namun, jika tidak dikendalikan, ia bisa menggeser kebiasaan baik, termasuk kebiasaan membaca.
Beralih dari Scroll ke Membaca Buku
Informasi bisa diperoleh sebanyak-banyaknya dari media sosial. Namun apakah semua informasi tersebut perlu? Apakah mampu membangun daya kritis? Apakah telah tersaring dengan baik atau dapat dicerna matang-matang?
Lain halnya dengan membaca buku. Membaca buku mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk digital, lalu masuk ke ruang berpikir yang lebih tenang dan terarah. Berbeda dengan konten media sosial yang cepat berganti, buku menuntut kesabaran, fokus, dan keterlibatan pikiran secara utuh. Dengan membaca, kita tidak hanya menerima informasi, tetapi juga belajar menganalisis, memahami konteks, dan menarik makna. Perlahan, kebiasaan membaca bisa menjadi penyeimbang dari konsumsi media sosial yang berlebihan.
Kabar baiknya, minat baca masyarakat Indonesia menunjukkan tren yang terus meningkat. Berbagai survei dan data literasi nasional mencatat adanya pertumbuhan minat terhadap buku, baik cetak maupun digital. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), indeks tingkat kegemaran membaca menunjukkan peningkatan dari 66,77% di tahun 2023 menjadi 72,44% di tahun 2024. Namun perlu dicatat, bahwa nilai ini masih dalam kategori sedang. Sehingga PR kita adalah untuk menjadikan minat baca ke depannya masuk kategori tinggi.
Naiknya minat baca di Indonesia memberikan angin segar sejak survei Unesco tahun 2016 bahwa hanya 1 dari 1000 orang yang rutin membaca buku. Kehadiran perpustakaan modern, komunitas literasi, konten media sosial seputar buku, serta aplikasi buku digital menjadi faktor pendukung yang signifikan. Ini menunjukkan bahwa membaca bukanlah kebiasaan yang hilang, melainkan sedang bertransformasi. Tantangannya kini bukan lagi ketersediaan bahan bacaan, tetapi kemauan untuk memilih membaca di tengah godaan layar.
Manfaat Membaca Buku dan Pemanfaatan Perpustakaan Offline maupun Digital
Membaca buku memberikan banyak manfaat, mulai dari memperluas wawasan, melatih empati, hingga meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Bagi civitas IDN, membaca juga menjadi bagian dari proses bertumbuh, baik secara intelektual maupun personal.
Karena itu, kehadiran IDN Living Library menjadi salah satu upaya nyata dalam memfasilitasi budaya membaca di lingkungan IDN. Dengan koleksi bacaan yang beragam, civitas IDN dan para siswa didorong untuk kembali menjadikan buku sebagai teman sehari-hari.
Selain perpustakaan fisik, sumber bacaan digital juga bisa dimanfaatkan. Salah satunya adalah aplikasi iPusnas, perpustakaan digital gratis yang menyediakan ribuan judul buku dari berbagai kategori. Akses yang mudah ini seharusnya menjadi alasan tambahan untuk mulai membaca, kapan pun dan di mana pun.
Persoalan rendahnya minat baca bukan semata tentang kurangnya fasilitas, melainkan tentang pilihan. Apakah waktu luang akan dihabiskan untuk scroll tanpa arah, atau dialihkan untuk membaca dan bertumbuh. Oleh karena itu, mari hidupkan habit membaca buku selayaknya habit bermain ponsel. Sebuah habit yang tanpa dipaksakan, mengalir begitu saja dan bahkan menjadi kebutuhan. Seperti tubuh yang memerlukan nutrisi dari makanan, otak (yang kian hari dapat melemah karena efek habit negatif) juga memerlukan nutrisi seperti buku “bergizi” dan bacaan-bacaan yang “daging” materinya.





Program Menulis Buku untuk Siswa dan Guru
Berbicara soal literasi, ternyata tak hanya ruang-ruang publik yang bergerak aktif dalam menghidupkannya. Nyatanya, lembaga pendidikan seperti IDN Boarding School juga mengambil peran penting. Sekolah ini dikenal bukan hanya karena basis pendidikannya di bidang IT dan agama, tetapi juga karena budaya literasi yang sangat kental. Adakalanya kita lupa, bahwa di balik gemerlap teknologi, literasi tetap menjadi kunci yang membentuk pola pikir kritis dan kreatif generasi muda.
“Siswa yang baik itu membaca, siswa yang hebat itu menulis buku.” Ini adalah salah satu prinsip yang dibangun di IDN Boarding School. Di sini para siswa didorong untuk menghasilkan karya tulis sejak di bangku sekolah. Mereka diberikan kebebasan untuk menulis buku dipandu oleh guru pembina yang bertanggungjawab memonitoring penulisan buku siswa. Siswa dapat menulis tentang pengalaman mereka mengikuti suatu program tertentu di IDN. Bahkan mereka membuat buku tutorial berdasarkan apa yang telah mereka pelajari sesuai jurusan mereka. Buku tutorial yang mereka tulis sangat menarik karena seperti sudah sekelas profesional dalam memaparkan materi terkait coding, desain, dan sebagainya.
Penerbit Yayasan IDN juga menerbitkan sebuah buku berjudul “Learning, Leading, Living the Future”. Buku ini ditulis oleh 24 pegawai IDN, mengangkat kisah pembelajaran, kepemimpinan, dan wawasan hidup masa depan, yang bisa dinikmati publik dan sudah ber-ISBN.
Apa yang Ada di Buku Ini?
LEARNING
Kemauan terus belajar dan membangun growth mindset.
LEADING
Strategi memimpin generasi masa kini yang penuh energi.
LIVING THE FUTURE
Langkah nyata membangun hidup yang relevan dan berdaya di era teknologi.
Insight Dunia Pendidikan, Teknologi, Sekolah Islam
Kisah inspiratif para civitas IDN, motivasi, tips and trick, pemaparan program dan kurikulum, dan studi kasus IDN terkait dunia pendidikan berbasis teknologi dan nilai Islam di Indonesia.
